Meski perut kian membesar, Anda merasa masih sanggup untuk berpuasa dan tetap beraktivitas? Tak apa Moms!
Untuk menghindari dehidrasi atau kelelahan, Anda (BuMil yang tidak bekerja di kantor) dapat menyiasati dengan merevisi jadwal kerja di rumah. Pindahkan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, menyetrika dan sebagainya ke sore hari atau lebih baik setelah berbuka. Â
Pemaparan dr Rusbandi Sarpini, SpKO dari RS Marinir Cilandak, Jakarta Selatan dan dr Trijatmo Rachimhadhi, SpOG dari Cinere Hospital, Depok berikut dapat menjawab keingintahuan Anda:
Saat Tepat Beraktivitas 'Berat'
Faktanya, cadangan energi selama menjalankan ibadah Ramadan yang berlangsung kurang lebih 12 jam masih mencukupi untuk melakukan aktivitas sehari-hari, asal tidak berlebihan. Hal yang sangat dikhawatirkan jika melakukan kegiatan yang berlebihan adalah menurunnya pasokan cairan tubuh alias dehidrasi.
Jika sedang tidak berpuasa, cairan yang hilang dari tubuh bisa langsung diganti. Namun jika sedang berpuasa, cairan tubuh yang kurang itu harus menunggu berbuka dulu. Akibatnya, tubuh akan kekurangan air dan ini mengganggu kerja fungsi organ tubuh yang lain.
Maka dari itu dianjurkan agar menjalankan aktivitas yang tidak terlalu banyak menggunakan tenaga. Kalaupun ingin melakukan aktivitas yang "berat-berat" seperti melakukan pekerjaan rumah tangga, berolahraga, sebaiknya lakukan menjelang waktu berbuka, kira-kira 1 - 2 jam sebelumnya.
Dengan cara itu, begitu tubuh mengeluarkan keringat, kita bisa langsung menggantikannya pada saat berbuka. Bisa juga pekerjaan rumah atau olahraga dilakukan sesudah berbuka, tetapi sebaiknya 2 - 3 jam setelah perut diisi makanan.
Rangsang Hormon Antiinsulin
Perlu diingat, tetaplah beraktivitas! Karena hal tersebut untuk merangsang keluarnya hormon antiinsulin yang berfungsi melepaskan gula darah. Kalau Anda bermalas-malasan selagi berpuasa atau terlalu banyak tidur, maka tubuh Anda makin kurang energi alias tak bertenaga. Itu semua karena kadar gula dibiarkan menurun secara drastis. Tentu Anda tak ingin begitu kan, Moms? Â
Tip Agar Tak Mudah Lelah
Nah, agar Moms tak cepat lelah saat bekerja padahal sedang berpuasa, aturlah sikap tubuh Moms dengan baik. Bagaimana caranya? Simak tip berikut! Â
Sikap Duduk (dapat dipraktikkan saat menyetrika)
1. Duduk dengan punggung tegak, paha sejajar dengan lantai dan telapak kaki menempel pada lantai.
2. Bila kursi Anda terlalu tinggi dan tidak dapat diubah, beri ganjalan pada kaki -misalnya kursi kecil - agar peredaran darah tetap lancar. Ganjal belakang punggung Anda dengan bantal empuk.
3. Hindari duduk dengan menyilangkan kaki.
4. Bila Anda harus duduk lama di depan meja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, sisihkan waktu beberapa menit untuk melakukan peregangan. Lakukan paling sedikit setiap jam. Caranya, angkat kedua lengan sejajar dengan pundak, kemudian tarik ke depan sejauh mungkin. Putar tubuh ke kanan atau ke kiri sepert menggeliat.
Sikap Berdiri (dapat dipraktikkan saat menyapu atau mengepel)
1. Bagi Anda yang harus bekerja dengan berdiri cukup lama, biasakan berdiri dengan tegak (kedua kaki sedikit meregang), bahu tetap lemas, dada diangkat dan bokong ditarik sambil menahan perut.
2. Agar tidak cepat lelah ketika berdiri, angkat salah satu kaki dan letakkan di atas penyangga kaki setinggi 10 - 15 cm, lakukan cara ini secara bergantian dengan kaki yang lain.
3. Bila mungkin, hentikan sejenak pekerjaan Anda, lalu tempelkan tubuh bagian belakang pada tembok dengan tubuh tegak lurus (kaki diregangkan). Turunkan tubuh secara perlahan dengan menekuk kaki sampai terasa adanya tarikan di otot paha (jangan sampai terasa sakit).
4. Sempatkan beristirahat duduk dengan kaki lurus ke depan dan lakukan peregangan di kaki dan pergelangan kaki.
5. Bila merasa pusing akibat terlalu lama berdiri (Anda mengalami penurunan tekanan darah), segera cari tempat yang nyaman untuk duduk.
Sikap Lain
1. Ketika mengangkat barang yang agak berat, lakukan dengan hati-hati. Bawalah benda-benda tersebut dengan cara memeluk, bukan menjinjing dengan sebelah tangan. Bila memungkinan, bawa benda-benda yang Anda butuhkan dengan tas ransel atau backpack.
2. Ketika mengambil sesuatu di lantai, lakukan dengan berjongkok bukan dengan membungkuk. Kemudian ketika berdiri, pertahankan agar punggung Anda tetap tegak.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Kumpulan artikel dari berbagai media tentang bagaimana melaksanakan puasa agar tetap sehat dan segar
Untuk memudahkan menemukan artikel yang anda cari, silahkan gunakan Search Box berikut:
Sunday, September 6, 2009
Saturday, September 5, 2009
Jangan Sekadar Menghilangkan Dahaga!
Menahan lapar mungkin tidak terlalu berat dibandingkan dahaga yang kerap melanda saat berpuasa. Lalu bagaimana agar BuMil yang berpuasa tidak kekurangan cairan? Bolehkah melepas dahaga dengan mengonsumsi minuman isotonik yang kini makin digemari?
Cairan merupakan komponen yang penting untuk ibu hamil. Moms harus bisa mengonsumsi sejumlah cairan yang akan mencukupi kebutuhan tubuh.
Patut diingat bagi ibu hamil (trimester pertama) yang mengalami mual muntah, tidak dianjurkan untuk berpuasa karena sulit memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan hanya pada saat berbuka.
Jika Anda satu di antara BuMil tersebut, pemaparan dr Arju Anita, Sp.OG dari RS Jakarta Medical Center bisa menambah wawasan Anda.
Perhatikan Kebutuhan Nutrisi! Hindari Kolak!
Sebenarnya sewaktu berpuasa, yang berubah hanyalah jam masuknya makanan ke dalam tubuh. Kalau makanan yang dapat diterima oleh tubuh hanya sedikit, tentu harus diimbangi dengan nutrisi yang mencukupi sekaligus memenuhi kebutuhan minimal wanita hamil.
Karena itu, perlu diperhatikan menu saat sahur dan berbuka yang penting bagi BuMil yaitu kebutuhan asupan makanan sehat, sayur, vitamin, mineral, zat besi dan protein.
Saat berbuka, sebaiknya hindari asupan yang tidak terlalu bermanfaat misalnya kolak, karena kandungannya hanya pisang, gula dan santan (cenderung cepat membuat kenyang sehingga tidak dapat mengonsumsi makanan lain).
Minum Manis
Justru yang harus dilakukan BuMil adalah minum dan makan yang manis untuk menggantikan gula yang berkurang saat puasa. Jangan lupa konsumsi makanan yang berasal dari protein hewani dan nabati diperbanyak, seimbangkan asupan karbohidrat (nasi, biskuit, gula) dan protein.
Minuman manis dapat berupa manisan buah, jus, atau es buah. Minuman yang sekarang makin diminati seperti minuman ion dalam kemasan boleh saja dikonsumi BuMil, asalkan diteliti terlebih dahulu apakah mengandung bahan pengawet atau tidak.
Jika kandungannya aman, BuMil boleh minum saat sahur atau buka, masing-masing satu kaleng. Jadi, tak perlu khawatir lagi ya Moms! Pastikan kesehatan dan kebersamaan Anda sekeluarga tetap terjaga saat berpuasa.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Cairan merupakan komponen yang penting untuk ibu hamil. Moms harus bisa mengonsumsi sejumlah cairan yang akan mencukupi kebutuhan tubuh.
Patut diingat bagi ibu hamil (trimester pertama) yang mengalami mual muntah, tidak dianjurkan untuk berpuasa karena sulit memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan hanya pada saat berbuka.
Jika Anda satu di antara BuMil tersebut, pemaparan dr Arju Anita, Sp.OG dari RS Jakarta Medical Center bisa menambah wawasan Anda.
Perhatikan Kebutuhan Nutrisi! Hindari Kolak!
Sebenarnya sewaktu berpuasa, yang berubah hanyalah jam masuknya makanan ke dalam tubuh. Kalau makanan yang dapat diterima oleh tubuh hanya sedikit, tentu harus diimbangi dengan nutrisi yang mencukupi sekaligus memenuhi kebutuhan minimal wanita hamil.
Karena itu, perlu diperhatikan menu saat sahur dan berbuka yang penting bagi BuMil yaitu kebutuhan asupan makanan sehat, sayur, vitamin, mineral, zat besi dan protein.
Saat berbuka, sebaiknya hindari asupan yang tidak terlalu bermanfaat misalnya kolak, karena kandungannya hanya pisang, gula dan santan (cenderung cepat membuat kenyang sehingga tidak dapat mengonsumsi makanan lain).
Minum Manis
Justru yang harus dilakukan BuMil adalah minum dan makan yang manis untuk menggantikan gula yang berkurang saat puasa. Jangan lupa konsumsi makanan yang berasal dari protein hewani dan nabati diperbanyak, seimbangkan asupan karbohidrat (nasi, biskuit, gula) dan protein.
Minuman manis dapat berupa manisan buah, jus, atau es buah. Minuman yang sekarang makin diminati seperti minuman ion dalam kemasan boleh saja dikonsumi BuMil, asalkan diteliti terlebih dahulu apakah mengandung bahan pengawet atau tidak.
Jika kandungannya aman, BuMil boleh minum saat sahur atau buka, masing-masing satu kaleng. Jadi, tak perlu khawatir lagi ya Moms! Pastikan kesehatan dan kebersamaan Anda sekeluarga tetap terjaga saat berpuasa.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Friday, September 4, 2009
Puasa Segar dan Berstamina
Puasa Ramadan memang istimewa. Selain bernilai ibadah, puasa juga bermanfaat menyehatkan badan. Bagaimana menjaga tubuh tetap bugar dan bersemangat selama puasa?
Memasuki pekan ketiga Ramadan, Anda masih tetap semangat berpuasa kan? Saat berpuasa, umumnya memang terjadi perubahan-perubahan. Mulai dari pola dan waktu makan, jam tidur, hingga kebiasaan lainnya seperti berolahraga.
Sari, 30, seorang karyawati PT Telkom Jakarta mengungkapkan, sudah dua minggu ini menghentikan aktivitas senam aerobik yang biasa dilakukannya tiga kali seminggu selepas pulang kantor. "Habis bagaimana lagi, tempat senam saya memang libur kalau bulan puasa," ujar gadis berjilbab itu.
Hal senada dikemukakan Rani, 27, yang mengaku "kangen" melakukan senam aerobik bersama rekan-rekannya di sebuah pusat kebugaran di kawasan Jakarta Pusat. Berkurangnya jumlah peserta senam secara signifikan saat bulan puasa menjadi pertimbangan diliburkannya aktivitas menyehatkan tersebut.
"Saya sudah terbiasa nge-gym lima kali seminggu. Jadi begitu puasa dan berhenti senam, badan jadi kurang bugar," sebutnya.
Regional Marketing and Promotion Manager dari Celebrity Fitness, Hendra Nugraha, menyayangkan penghentian total aktivitas berolahraga saat puasa. Menurut dia, kebiasaan berolahraga seharusnya tetap diteruskan dengan mengubah durasi, intensitas, dan volume setiap sesi latihan. Saat berpuasa, proses metabolisme tubuh akan berpengaruh terhadap aktivitas olahraga.
Hal ini disebabkan oleh pengolahan bahan makanan sebagai sumber energi menjadi sedikit berbeda karena perubahan waktu makan.Namun, tak perlu khawatir, tubuh manusia mampu melakukan adaptasi terhadap dirinya sendiri dan lingkungan tergantung pada kebiasaan.
"Pada awal puasa,tubuh mungkin akan terasa lemas apabila digunakan untuk berolahraga, namun pada masa itu tubuh melakukan adaptasi. Setelah melakukan penyesuaian, tubuh akan menjadi terbiasa untuk berolahraga," beber Hendra.
Saat berpuasa, Anda disarankan berolahraga dengan intensitas rendah, yaitu 60 persen-70 persen dari denyut nadi maksimal. Bagi Anda yang masih punya lemak di perut dan ingin membakarnya, silakan tetap melakukan latihan kardiovaskular (cardiovascular exercise) tapi jangan terlampau keras berlatih.
"Waktu terbaik untuk berolahraga adalah 45-60 menit sebelum berbuka dengan durasi sekitar 30 menit saja. Berolahraga tidak berarti harus pergi ke gym, Anda juga bisa melakukannya di rumah atau kantor," tandas Hendra.
Pada prinsipnya, olahraga yang dilaksanakan saat berpuasa bertujuan sebagai bentuk penjagaan tubuh agar tetap sehat dan bugar. Artinya, olahraga yang dilakukan harus mampu melancarkan aliran darah dan melenturkan otot-otot. Selain itu, jantung lebih aktif bergiat dan zat asam atau oksigen lebih banyak terhirup sebagai proses metabolisme tubuh.
Olahraga juga membantu menjaga sel-sel tubuh tetap sehat sehingga lebih siap menerima oksigen. Direktur Slim+Health Sports Therapy di RS Mitra Kemayoran dan Mal TamanAnggrek Jakarta, dr Michael Triangto SpKO, mengungkapkan, orang melakukan aktivitas olahraga biasanya dibedakan atas tujuannya.
"Apakah sekadar menjaga kebugaran ataukah memang serius ingin membentuk otot-otot tubuh?" katanya.
Bagi mereka yang melakukan olahraga dengan tujuan menjaga kebugaran semata atau sebagai ajang berkumpul bersama keluarga, Michael menyarankan aktivitas fisik berulang dengan intensitas ringan, namun berdurasi cukup panjang. Sebut saja jalan kaki atau jalan cepat bersama keluarga ataupun bermain bersama anak.
Sementara itu, orang yang terbiasa melakukan aktivitas latihan (exercise) rutin ataupun nge-gym 4- 5 kali seminggu, saat puasa diperlukan latihan yang sifatnya individual.
Perlu diingat juga, jika latihan sama sekali terhenti, maka dalam tempo dua minggu kebugaran bisa menurun hingga 50 persen. Terlebih bagi individu yang melakukan latihan pembentukan otot jika saat puasa berhenti total latihan bisa-bisa otot akan mengendur.
"Jadi, tetap lakukan latihan dengan intensitas lebih ringan, misalnya mengurangi beban atau jumlah repetisi," saran Michael.
Penuturan Michael diamini Krishnu, 28. Bulan puasa tak menyurutkan semangat pria yang berdomisili di Sudirman Park Jakarta itu untuk tetap menjalani aktivitas latihan yang rutin dilakukan tiga kali seminggu di pusat kebugaran di dekat kantornya.
"Jamnya masih sama, sore hari sekitar jam 4. Atau terkadang selepas salat tarawih sampai jam sepuluh malam," tutur Manajer Humas Bayer Health Care Indonesia itu.
Cukupi Kebutuhan Cairan
Menjaga kecukupan cairan dalam tubuh merupakan kunci utama puasa yang segar dan berstamina. Hal ini diakui dokter spesialis anak RS Pondok Indah Jakarta, Dr Adi Tagor SpA DPH. Kendati telah memasuki usia 73 tahun, pria yang akrab disapa dokter Tagor ini tetap semangat berpuasa Ramadan. "Kuncinya menjaga cairan tubuh, itu saja," ucapnya.
Dokter yang juga berpraktik di sebuah klinik di kawasan Prapanca dan Pondok Pinang itu mengingatkan orang yang berpuasa untuk tidak malas minum air saat berbuka hingga imsak tiba. Saat malam hari, umumnya orang cenderung tidak merasa haus karena sistem hormon dan mekanisme nokturnal tubuh telah mengaturnya demikian.
"Akibatnya, orang jadi lupa minum kalau malam hari, apalagi kalau di ruangan ber-AC. Padahal, saat puasa seharusnya banyak minum pada malam harinya," kata Tagor.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Memasuki pekan ketiga Ramadan, Anda masih tetap semangat berpuasa kan? Saat berpuasa, umumnya memang terjadi perubahan-perubahan. Mulai dari pola dan waktu makan, jam tidur, hingga kebiasaan lainnya seperti berolahraga.
Sari, 30, seorang karyawati PT Telkom Jakarta mengungkapkan, sudah dua minggu ini menghentikan aktivitas senam aerobik yang biasa dilakukannya tiga kali seminggu selepas pulang kantor. "Habis bagaimana lagi, tempat senam saya memang libur kalau bulan puasa," ujar gadis berjilbab itu.
Hal senada dikemukakan Rani, 27, yang mengaku "kangen" melakukan senam aerobik bersama rekan-rekannya di sebuah pusat kebugaran di kawasan Jakarta Pusat. Berkurangnya jumlah peserta senam secara signifikan saat bulan puasa menjadi pertimbangan diliburkannya aktivitas menyehatkan tersebut.
"Saya sudah terbiasa nge-gym lima kali seminggu. Jadi begitu puasa dan berhenti senam, badan jadi kurang bugar," sebutnya.
Regional Marketing and Promotion Manager dari Celebrity Fitness, Hendra Nugraha, menyayangkan penghentian total aktivitas berolahraga saat puasa. Menurut dia, kebiasaan berolahraga seharusnya tetap diteruskan dengan mengubah durasi, intensitas, dan volume setiap sesi latihan. Saat berpuasa, proses metabolisme tubuh akan berpengaruh terhadap aktivitas olahraga.
Hal ini disebabkan oleh pengolahan bahan makanan sebagai sumber energi menjadi sedikit berbeda karena perubahan waktu makan.Namun, tak perlu khawatir, tubuh manusia mampu melakukan adaptasi terhadap dirinya sendiri dan lingkungan tergantung pada kebiasaan.
"Pada awal puasa,tubuh mungkin akan terasa lemas apabila digunakan untuk berolahraga, namun pada masa itu tubuh melakukan adaptasi. Setelah melakukan penyesuaian, tubuh akan menjadi terbiasa untuk berolahraga," beber Hendra.
Saat berpuasa, Anda disarankan berolahraga dengan intensitas rendah, yaitu 60 persen-70 persen dari denyut nadi maksimal. Bagi Anda yang masih punya lemak di perut dan ingin membakarnya, silakan tetap melakukan latihan kardiovaskular (cardiovascular exercise) tapi jangan terlampau keras berlatih.
"Waktu terbaik untuk berolahraga adalah 45-60 menit sebelum berbuka dengan durasi sekitar 30 menit saja. Berolahraga tidak berarti harus pergi ke gym, Anda juga bisa melakukannya di rumah atau kantor," tandas Hendra.
Pada prinsipnya, olahraga yang dilaksanakan saat berpuasa bertujuan sebagai bentuk penjagaan tubuh agar tetap sehat dan bugar. Artinya, olahraga yang dilakukan harus mampu melancarkan aliran darah dan melenturkan otot-otot. Selain itu, jantung lebih aktif bergiat dan zat asam atau oksigen lebih banyak terhirup sebagai proses metabolisme tubuh.
Olahraga juga membantu menjaga sel-sel tubuh tetap sehat sehingga lebih siap menerima oksigen. Direktur Slim+Health Sports Therapy di RS Mitra Kemayoran dan Mal TamanAnggrek Jakarta, dr Michael Triangto SpKO, mengungkapkan, orang melakukan aktivitas olahraga biasanya dibedakan atas tujuannya.
"Apakah sekadar menjaga kebugaran ataukah memang serius ingin membentuk otot-otot tubuh?" katanya.
Bagi mereka yang melakukan olahraga dengan tujuan menjaga kebugaran semata atau sebagai ajang berkumpul bersama keluarga, Michael menyarankan aktivitas fisik berulang dengan intensitas ringan, namun berdurasi cukup panjang. Sebut saja jalan kaki atau jalan cepat bersama keluarga ataupun bermain bersama anak.
Sementara itu, orang yang terbiasa melakukan aktivitas latihan (exercise) rutin ataupun nge-gym 4- 5 kali seminggu, saat puasa diperlukan latihan yang sifatnya individual.
Perlu diingat juga, jika latihan sama sekali terhenti, maka dalam tempo dua minggu kebugaran bisa menurun hingga 50 persen. Terlebih bagi individu yang melakukan latihan pembentukan otot jika saat puasa berhenti total latihan bisa-bisa otot akan mengendur.
"Jadi, tetap lakukan latihan dengan intensitas lebih ringan, misalnya mengurangi beban atau jumlah repetisi," saran Michael.
Penuturan Michael diamini Krishnu, 28. Bulan puasa tak menyurutkan semangat pria yang berdomisili di Sudirman Park Jakarta itu untuk tetap menjalani aktivitas latihan yang rutin dilakukan tiga kali seminggu di pusat kebugaran di dekat kantornya.
"Jamnya masih sama, sore hari sekitar jam 4. Atau terkadang selepas salat tarawih sampai jam sepuluh malam," tutur Manajer Humas Bayer Health Care Indonesia itu.
Cukupi Kebutuhan Cairan
Menjaga kecukupan cairan dalam tubuh merupakan kunci utama puasa yang segar dan berstamina. Hal ini diakui dokter spesialis anak RS Pondok Indah Jakarta, Dr Adi Tagor SpA DPH. Kendati telah memasuki usia 73 tahun, pria yang akrab disapa dokter Tagor ini tetap semangat berpuasa Ramadan. "Kuncinya menjaga cairan tubuh, itu saja," ucapnya.
Dokter yang juga berpraktik di sebuah klinik di kawasan Prapanca dan Pondok Pinang itu mengingatkan orang yang berpuasa untuk tidak malas minum air saat berbuka hingga imsak tiba. Saat malam hari, umumnya orang cenderung tidak merasa haus karena sistem hormon dan mekanisme nokturnal tubuh telah mengaturnya demikian.
"Akibatnya, orang jadi lupa minum kalau malam hari, apalagi kalau di ruangan ber-AC. Padahal, saat puasa seharusnya banyak minum pada malam harinya," kata Tagor.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Tuesday, September 23, 2008
Siasati Lebaran Tanpa Gangguan Pencernaan
SAAT hari raya tiba, beragam masakan dan panganan yang menggoda selera disajikan di setiap rumah umat muslim. Sehingga bukan hal yang aneh bila saat Lebaran banyak masalah kesehatan yang muncul, terutama masalah gangguan pencernaan, hingga penyakit serius lainnya.
Hal ini dapat dimaklumi lantaran saat hari kemenangan tiba, orang tidak lagi mempedulikan lagi asupan makananannya akibat selera yang berlebih saat bersilaturahmi ke berbagai tempat.
Selain itu, waktu yang menjadi tidak tepat saat menyantap makanan yang tidak seimbang serta padatnya aktivitas dapat menurunkan kondisi kesehatan seseorang.
Nah, untuk mencegah agar kondisi tersebut tak menimpa Anda dan mengganggu suasana Lebaran, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Menurut Guru Besar Ilmu Pangan dan Gizi IPB Bogor Prof Dr Ir Ali Khomsan Ms, hal terpenting yang harus dilakukan ialah memasok buah-buahan serta sayuran yang mengandung serat dalam lemari es.
"Selama Lebaran dua-tiga hari pertama identik dengan masakan semisal opor, sambal goreng ati, rendang, dan masakan bersantan lainnya. Tak hanya itu, berbagai makanan camilan dan minuman manis menjadikan nilai asupan berlipat ganda. Agar kesehatan tetap terjaga meski mengonsumsi masakan-masakan tersebut, yang penting keluarga menyediakan buah-buahan serta sayuran sebagai penangkalnya," papar Prof Ali Khomsan kepada okezone saat dihubungi melalui telepon selulernya, Selasa (23/9/2008).
Kendati sayur-sayuran relatif tidak bertahan lama, namun elemen ini tetap harus tersaji di atas meja. Karena itu, sambung Prof Ali, saat Anda dan keluarga tak ingin repot membuat masakan dari sayuran, lalapan dapat menjadi alternatif pilihan.
"Bagi Anda yang menjadi bagian orang yang tidak bisa makan tanpa sayuran, maka bisa memilih lalapan segar atau wortel dan labu siam yang direbus. Jenis-jenis lalapan ini dapat langsung dinikmati tanpa repot memasaknya," katanya.
Masih menurut Prof Ali, masakan bersantan dan camilan yang mengandung protein, lemak, dan gula yang tinggi memang selalu menjadi pilihan menggoda. Namun, kebanyakan anggota keluarga enggan berlama-lama mengonsumsi jenis-jenis makanan tersebut, sehingga foodcourt menjadi alternatif yang terbaik. Padahal jenis-jenis masakan di foodcourt umumnya cepat saji dan mengandung lemak yang tinggi.
"Kalau pun foodcourt menjadi pilihan, sebaiknya tetap memilih makanan yang mengandung unsur buah-buahan yang dibuat menjadi jus dan sayuran dalam masakan agar kebutuhan akan serat tetap terpenuhi," tutur pria ramah ini.
Selain serat yang berasal dari sayur dan buah-buahan, Anda dapat pula memilih alternatif makanan yang mengandung serat lainnya, semisal kacang mede atau kacang asin. Ini dilakukan karena kacang-kacangan merupakan sumber serat yang juga bagus.
Tak hanya kacang-kacangan, alternatif pilihan lainnya dapat diperoleh dari agar-agar instan yang mengandung serat.
"Agar-agar tersebut dapat dipilih terbuat dari ganggang dan rumput laut. Proses penyajiannya pun mudah sehingga bisa memberi kontribusi makanan berserat yang dibutuhkan tubuh," tandasnya.
Dengan mengutamakan makanan yang mengandung serat, maka masalah gangguan kesehatan setelah Lebaran akan bisa ditekan jumlahnya.
Selamat berlebaran tanpa gangguan kesehatan ...
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Hal ini dapat dimaklumi lantaran saat hari kemenangan tiba, orang tidak lagi mempedulikan lagi asupan makananannya akibat selera yang berlebih saat bersilaturahmi ke berbagai tempat.
Selain itu, waktu yang menjadi tidak tepat saat menyantap makanan yang tidak seimbang serta padatnya aktivitas dapat menurunkan kondisi kesehatan seseorang.
Nah, untuk mencegah agar kondisi tersebut tak menimpa Anda dan mengganggu suasana Lebaran, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Menurut Guru Besar Ilmu Pangan dan Gizi IPB Bogor Prof Dr Ir Ali Khomsan Ms, hal terpenting yang harus dilakukan ialah memasok buah-buahan serta sayuran yang mengandung serat dalam lemari es.
"Selama Lebaran dua-tiga hari pertama identik dengan masakan semisal opor, sambal goreng ati, rendang, dan masakan bersantan lainnya. Tak hanya itu, berbagai makanan camilan dan minuman manis menjadikan nilai asupan berlipat ganda. Agar kesehatan tetap terjaga meski mengonsumsi masakan-masakan tersebut, yang penting keluarga menyediakan buah-buahan serta sayuran sebagai penangkalnya," papar Prof Ali Khomsan kepada okezone saat dihubungi melalui telepon selulernya, Selasa (23/9/2008).
Kendati sayur-sayuran relatif tidak bertahan lama, namun elemen ini tetap harus tersaji di atas meja. Karena itu, sambung Prof Ali, saat Anda dan keluarga tak ingin repot membuat masakan dari sayuran, lalapan dapat menjadi alternatif pilihan.
"Bagi Anda yang menjadi bagian orang yang tidak bisa makan tanpa sayuran, maka bisa memilih lalapan segar atau wortel dan labu siam yang direbus. Jenis-jenis lalapan ini dapat langsung dinikmati tanpa repot memasaknya," katanya.
Masih menurut Prof Ali, masakan bersantan dan camilan yang mengandung protein, lemak, dan gula yang tinggi memang selalu menjadi pilihan menggoda. Namun, kebanyakan anggota keluarga enggan berlama-lama mengonsumsi jenis-jenis makanan tersebut, sehingga foodcourt menjadi alternatif yang terbaik. Padahal jenis-jenis masakan di foodcourt umumnya cepat saji dan mengandung lemak yang tinggi.
"Kalau pun foodcourt menjadi pilihan, sebaiknya tetap memilih makanan yang mengandung unsur buah-buahan yang dibuat menjadi jus dan sayuran dalam masakan agar kebutuhan akan serat tetap terpenuhi," tutur pria ramah ini.
Selain serat yang berasal dari sayur dan buah-buahan, Anda dapat pula memilih alternatif makanan yang mengandung serat lainnya, semisal kacang mede atau kacang asin. Ini dilakukan karena kacang-kacangan merupakan sumber serat yang juga bagus.
Tak hanya kacang-kacangan, alternatif pilihan lainnya dapat diperoleh dari agar-agar instan yang mengandung serat.
"Agar-agar tersebut dapat dipilih terbuat dari ganggang dan rumput laut. Proses penyajiannya pun mudah sehingga bisa memberi kontribusi makanan berserat yang dibutuhkan tubuh," tandasnya.
Dengan mengutamakan makanan yang mengandung serat, maka masalah gangguan kesehatan setelah Lebaran akan bisa ditekan jumlahnya.
Selamat berlebaran tanpa gangguan kesehatan ...
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Tuesday, September 16, 2008
Minuman Dingin Sebabkan Radang Tenggorokan
Setelah berpuasa seharian, banyak muslimin dan muslimah berbuka dengan minuman dingin atau es. Memang benar bahwa minuman dingin bisa membuat orang langsung lega dan segar. Masalahnya, minuman dingin seperti itu justru menyebabkan radang tenggorokan. Karena itu, berbukalah dengan minuman hangat supaya pembuluh darah cepat terbuka.
Radang tenggorokan atau faringitis menurut dr Inis Sumiati SpTHT dari Rumah Sakit Sentra Medika, Cisalak, Depok, merupakan salah satu masalah yang sering timbul di bagian tenggorokan, seperti rasa kering, gatal dan nyeri atau perih. Rasa itu merupakan tanda-tanda dari gejala radang tenggorokan.
Radang tenggorokan memang terdengar sangat sepele karena mirip dengan penyakit flu biasa, seperti demam, sakit kepala, dan gangguan susah menelan. Padahal aktivitas kita sudah pasti akan terganggu karena radang tenggorokan. Selain itu, selera makan pun bisa hilang karena rasa sakit pada saat menelan.
Faktor Penyebab dan Gejala
Radang tenggorokan disebabkan oleh dua jenis infeksi, yaitu virus dan bakteri. Sekitar 80 persen radang tenggorokan disebabkan oleh virus dan hanya 10-20 persen yang disebabkan oleh bakteri. Pertama adalah faringitis karena virus. Biasanya, gejala klinisnya adalah demam, tidak bergairah, rasa nyeri di kepala, mual yang disertai dengan suara serak, batuk dan radang pada hidung (rhinitis). Radang tenggorokan yang disebabkan oleh virus ini dapat berlangsung selama 1-2 hari, bahkan sampai satu minggu ke depan.
Kedua adalah radang tenggorokan atau faringitis yang disebabkan oleh bakteri streptokokus B dan hemolitikus A. Gejala penyakit ini cenderung akut dengan disertai demam yang tinggi, sakit kepala, rasa nyeri di perut, dan muntah-muntah. Tenggorokan pun akan terasa nyeri, amandel menjadi merah dan bengkak.
Pada anak-anak yang sudah besar akan lebih terlihat adanya lapisan seperti krim di atas amandel (eksudat) yang tidak mengeluarkan darah bila disentuh. Kelenjar getah bening di leher pun ikut membengkak dan terasa nyeri bila ditekan. Jika dibiarkan, akan menimbulkan radang ginjal (glamerulonefritis akut), demam rematik, otitis media (radang telinga bagian tengah), sinusitis, abses peritonsil dan abses retro pharynx.
Selain kedua faktor tersebut, alergi dan iritasi juga dapat menyebabkan terjadinya radang tenggorokan. Hal ini disebabkan oleh makanan yang masuk, seperti makanan yang terlalu pedas, terlalu asam, terlalu panas atau pun dingin, dan makanan yang terlalu bergetah. Iritasi juga sering terjadi pada mereka yang bekerja di lingkungan pabrik.
Alergi sendiri dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, seperti makanan dan minuman, obat-obatan, cuaca, dan debu. Zat yang menyebabkan alergi disebut allergen. Jika alergen masuk ke dalam tubuh penderita alergi, tubuh akan mengeluarkan zat-zat yang menyebabkan alergi. Akibatnya, timbul reaksi-reaksi tertentu seperti gatal dan batuk-batuk.
Selain itu, radang sering dialami mereka yang alergi terhadap jenis buah-buahan tertentu dan olahannya, seperti jus. "Biasanya paling sering pada jus tomat," terangnya. Minyak goreng seperti minyak jelanta yang dipakai secara berulang pun bisa menjadi salah satu penyebab terjadi radang tenggorokan. Oleh karena itu, Anda yang alergi terhadap minyak goreng dianjurkan untuk mengganti minyak goreng setiap kali akan memasak.
Pengobatan dan Pencegahan
Radang tenggorokan yang disebabkan oleh alergi atau iritasi tidak dapat diobati karena sudah merupakan bawaan lahir. Cara paling baik untuk menghindari reaksi alergi adalah menghindari penyebabnya dan meningkatkan atau menjaga daya tahan tubuh. Radang tenggorokan yang disebabkan oleh virus, lanjut dr Inis, bisa diobati. Pengobatan dengan antibiotik tidak akan efektif untuk mengobati infeksi virus. Justru pemberian antibiotik dapat menimbulkan resistensi atau kekebalan kuman terhadap antibiotik.
Radang tenggorokan yang disebabkan oleh infeksi bakteri memang tidak sesering infeksi virus. Tapi dampaknya bisa lebih serius. Pada umumnya, radang tenggorokan diakibatkan oleh bakteri jenis streptokokus, sehingga biasa disebut dengan radang streptokokus. Sering kali orang menderita infeksi streptokokus karena tertular orang lain yang telah menderita radang selama 2-7 hari sebelumnya. Radang tenggorokan ini dapat tertular melalui sekresi hidung atau tenggorokan. "Radang yang satu ini memang memerlukan bantuan dokter karena bila penyebabnya adalah kuman streptokokus dan tidak mendapat antibiotik yang memadai, penyakit akan bertambah parah dan kuman dapat menyerang katup jantung sehingga dapat menimbulkan penyakit demam rematik," jelasnya.
Mengingat minuman dingin seperti air es dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan, terlebih untuk mereka yang menderita alergi dingin, dr Inis menganjurkan agar pada masa puasa ini orang berbuka terlebih dahulu dengan minuman panas atau hangat agar pembuluh darah di daerah tenggorokan dapat cepat terbuka. Terbukanya pembuluh darah akan mempermudah dan sekaligus mempercepat proses absorbsi. "Kalau minum es, pembuluh darahnya akan menciut sehingga proses absorbsinya akan terganggu," tambahnya.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Radang tenggorokan atau faringitis menurut dr Inis Sumiati SpTHT dari Rumah Sakit Sentra Medika, Cisalak, Depok, merupakan salah satu masalah yang sering timbul di bagian tenggorokan, seperti rasa kering, gatal dan nyeri atau perih. Rasa itu merupakan tanda-tanda dari gejala radang tenggorokan.
Radang tenggorokan memang terdengar sangat sepele karena mirip dengan penyakit flu biasa, seperti demam, sakit kepala, dan gangguan susah menelan. Padahal aktivitas kita sudah pasti akan terganggu karena radang tenggorokan. Selain itu, selera makan pun bisa hilang karena rasa sakit pada saat menelan.
Faktor Penyebab dan Gejala
Radang tenggorokan disebabkan oleh dua jenis infeksi, yaitu virus dan bakteri. Sekitar 80 persen radang tenggorokan disebabkan oleh virus dan hanya 10-20 persen yang disebabkan oleh bakteri. Pertama adalah faringitis karena virus. Biasanya, gejala klinisnya adalah demam, tidak bergairah, rasa nyeri di kepala, mual yang disertai dengan suara serak, batuk dan radang pada hidung (rhinitis). Radang tenggorokan yang disebabkan oleh virus ini dapat berlangsung selama 1-2 hari, bahkan sampai satu minggu ke depan.
Kedua adalah radang tenggorokan atau faringitis yang disebabkan oleh bakteri streptokokus B dan hemolitikus A. Gejala penyakit ini cenderung akut dengan disertai demam yang tinggi, sakit kepala, rasa nyeri di perut, dan muntah-muntah. Tenggorokan pun akan terasa nyeri, amandel menjadi merah dan bengkak.
Pada anak-anak yang sudah besar akan lebih terlihat adanya lapisan seperti krim di atas amandel (eksudat) yang tidak mengeluarkan darah bila disentuh. Kelenjar getah bening di leher pun ikut membengkak dan terasa nyeri bila ditekan. Jika dibiarkan, akan menimbulkan radang ginjal (glamerulonefritis akut), demam rematik, otitis media (radang telinga bagian tengah), sinusitis, abses peritonsil dan abses retro pharynx.
Selain kedua faktor tersebut, alergi dan iritasi juga dapat menyebabkan terjadinya radang tenggorokan. Hal ini disebabkan oleh makanan yang masuk, seperti makanan yang terlalu pedas, terlalu asam, terlalu panas atau pun dingin, dan makanan yang terlalu bergetah. Iritasi juga sering terjadi pada mereka yang bekerja di lingkungan pabrik.
Alergi sendiri dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, seperti makanan dan minuman, obat-obatan, cuaca, dan debu. Zat yang menyebabkan alergi disebut allergen. Jika alergen masuk ke dalam tubuh penderita alergi, tubuh akan mengeluarkan zat-zat yang menyebabkan alergi. Akibatnya, timbul reaksi-reaksi tertentu seperti gatal dan batuk-batuk.
Selain itu, radang sering dialami mereka yang alergi terhadap jenis buah-buahan tertentu dan olahannya, seperti jus. "Biasanya paling sering pada jus tomat," terangnya. Minyak goreng seperti minyak jelanta yang dipakai secara berulang pun bisa menjadi salah satu penyebab terjadi radang tenggorokan. Oleh karena itu, Anda yang alergi terhadap minyak goreng dianjurkan untuk mengganti minyak goreng setiap kali akan memasak.
Pengobatan dan Pencegahan
Radang tenggorokan yang disebabkan oleh alergi atau iritasi tidak dapat diobati karena sudah merupakan bawaan lahir. Cara paling baik untuk menghindari reaksi alergi adalah menghindari penyebabnya dan meningkatkan atau menjaga daya tahan tubuh. Radang tenggorokan yang disebabkan oleh virus, lanjut dr Inis, bisa diobati. Pengobatan dengan antibiotik tidak akan efektif untuk mengobati infeksi virus. Justru pemberian antibiotik dapat menimbulkan resistensi atau kekebalan kuman terhadap antibiotik.
Radang tenggorokan yang disebabkan oleh infeksi bakteri memang tidak sesering infeksi virus. Tapi dampaknya bisa lebih serius. Pada umumnya, radang tenggorokan diakibatkan oleh bakteri jenis streptokokus, sehingga biasa disebut dengan radang streptokokus. Sering kali orang menderita infeksi streptokokus karena tertular orang lain yang telah menderita radang selama 2-7 hari sebelumnya. Radang tenggorokan ini dapat tertular melalui sekresi hidung atau tenggorokan. "Radang yang satu ini memang memerlukan bantuan dokter karena bila penyebabnya adalah kuman streptokokus dan tidak mendapat antibiotik yang memadai, penyakit akan bertambah parah dan kuman dapat menyerang katup jantung sehingga dapat menimbulkan penyakit demam rematik," jelasnya.
Mengingat minuman dingin seperti air es dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan, terlebih untuk mereka yang menderita alergi dingin, dr Inis menganjurkan agar pada masa puasa ini orang berbuka terlebih dahulu dengan minuman panas atau hangat agar pembuluh darah di daerah tenggorokan dapat cepat terbuka. Terbukanya pembuluh darah akan mempermudah dan sekaligus mempercepat proses absorbsi. "Kalau minum es, pembuluh darahnya akan menciut sehingga proses absorbsinya akan terganggu," tambahnya.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Segar Berstamina, Bebas Dehidrasi
Bagi yang mengerti faedah berpuasa, niscaya akan berharap sepanjang tahun adalah Ramadan. Pernyataan tersebut tentu tak berlebihan bila menilik ragam manfaat yang dapat dipetik dengan berpuasa.
Ahli nutrisi dari Sun Hope Indonesia, Fatimah Syarief AMG STP, mengemukakan, puasa mengandung tiga mekanisme aktif, yakni perlindungan, pencegahan, dan pengobatan. Saat berpuasa, asupan makan dibatasi, terutama di siang hari, sehingga organ pencernaan mengalami relaksasi. Pembatasan suplai makanan selama berpuasa ini juga mencegah penumpukan racun, kotoran, dan zat sampah hasil sisa metabolisme.
"Keistimewaan lainnya adalah peningkatan kekebalan tubuh, peremajaan sel kulit, perbaikan fungsi hormon, penyerapan gizi yang optimal, serta meningkatkan fungsi organ reproduksi yang berkaitan dengan kesuburan," paparnya.
Supaya tetap segar dan berstamina saat berpuasa, asupan cairan merupakan salah satu aspek penting yang harus tercukupi. Jika tidak memadai, bisa timbul dehidrasi. Selain tubuh menjadi lemas, dehidrasi ringan biasanya ditandai rasa haus. Sementara dehidrasi sedang bisa disertai gejala turunnya tekanan darah sehingga terasa pusing, berkunang-kunang, dan gelap bila berdiri dari posisi duduk atau tidur.
"Akan tetapi, umumnya selama puasa, tubuh beradaptasi dengan mengeluarkan hormon antidiuretik yang mengurangi pengeluaran urine dari ginjal dan mencegah pengeluaran garam natrium sehingga cairan bisa ditahan di dalam tubuh," papar dr Johanes C MND SpGK dari Melinda Hospital Bandung.
Kendati demikian, saat berpuasa sebaiknya asupan cairan dijaga agar dapat mendekati anjuran asupan harian 2,2 Liter (9 gelas belimbing) untuk wanita dan 3 liter (12 gelas belimbing) untuk pria. "Pengaturan minum ini sangat individual sifatnya. Jadi sebaiknya diminum dalam porsi kecil, tapi sering mulai saat berbuka puasa sampai saat sahur," katanya.
Adakalanya di saat sahur, udara yang masih dingin membuat kita kurang merasa haus sehingga malas minum. Untuk mengakali, sebaiknya minum minuman hangat seperti teh atau kopi encer (jangan yang pekat karena dapat menimbulkan dehidrasi karena ada efek diuretik/buang air kecilnya).
Pada saat berbuka puasa sampai 1/2 jam sebelum tidur diupayakan banyak minum untuk mengejar kekurangan cairan selama berpuasa. Namun, umumnya asupan cairan masih tetap kurang dari anjuran. Hal ini tidak perlu terlalu dirisaukan karena air juga terbentuk pada saat metabolisme makanan.
Sementara itu saat berbuka puasa, sebaiknya minumlah es buah atau teh dengan gula biasa secukupnya (jangan terlalu manis). Tujuannya hanya untuk menambah sedikit gula darah yang sudah mulai menurun karena puasa. Adapun terkait suhu cairan yang diminum, Johanes tidak mempermasalahkan jika ada orang yang ingin langsung minum air es saat berbuka. Pasalnya, minuman akan dipanaskan atau didinginkan dalam perjalanannya menuju lambung dan di dalam lambung.
"Sehingga, suhunya akan menjadi sama dengan suhu di dalam lambung, yaitu 37 derajat Celsius," ujarnya seraya mengingatkan untuk menghindari minuman yang terlalu manis atau terlalu banyak santannya karena mengandung terlalu banyak kalori dan lemak jenuh.
Johanes menyebutkan, efek lain dari dehidrasi adalah memicu bibir kering, bahkan mungkin seriawan. Selain banyak minum, pencegahan seriawan saat puasa dilakukan dengan makan cukup buah dan sayuran.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Ahli nutrisi dari Sun Hope Indonesia, Fatimah Syarief AMG STP, mengemukakan, puasa mengandung tiga mekanisme aktif, yakni perlindungan, pencegahan, dan pengobatan. Saat berpuasa, asupan makan dibatasi, terutama di siang hari, sehingga organ pencernaan mengalami relaksasi. Pembatasan suplai makanan selama berpuasa ini juga mencegah penumpukan racun, kotoran, dan zat sampah hasil sisa metabolisme.
"Keistimewaan lainnya adalah peningkatan kekebalan tubuh, peremajaan sel kulit, perbaikan fungsi hormon, penyerapan gizi yang optimal, serta meningkatkan fungsi organ reproduksi yang berkaitan dengan kesuburan," paparnya.
Supaya tetap segar dan berstamina saat berpuasa, asupan cairan merupakan salah satu aspek penting yang harus tercukupi. Jika tidak memadai, bisa timbul dehidrasi. Selain tubuh menjadi lemas, dehidrasi ringan biasanya ditandai rasa haus. Sementara dehidrasi sedang bisa disertai gejala turunnya tekanan darah sehingga terasa pusing, berkunang-kunang, dan gelap bila berdiri dari posisi duduk atau tidur.
"Akan tetapi, umumnya selama puasa, tubuh beradaptasi dengan mengeluarkan hormon antidiuretik yang mengurangi pengeluaran urine dari ginjal dan mencegah pengeluaran garam natrium sehingga cairan bisa ditahan di dalam tubuh," papar dr Johanes C MND SpGK dari Melinda Hospital Bandung.
Kendati demikian, saat berpuasa sebaiknya asupan cairan dijaga agar dapat mendekati anjuran asupan harian 2,2 Liter (9 gelas belimbing) untuk wanita dan 3 liter (12 gelas belimbing) untuk pria. "Pengaturan minum ini sangat individual sifatnya. Jadi sebaiknya diminum dalam porsi kecil, tapi sering mulai saat berbuka puasa sampai saat sahur," katanya.
Adakalanya di saat sahur, udara yang masih dingin membuat kita kurang merasa haus sehingga malas minum. Untuk mengakali, sebaiknya minum minuman hangat seperti teh atau kopi encer (jangan yang pekat karena dapat menimbulkan dehidrasi karena ada efek diuretik/buang air kecilnya).
Pada saat berbuka puasa sampai 1/2 jam sebelum tidur diupayakan banyak minum untuk mengejar kekurangan cairan selama berpuasa. Namun, umumnya asupan cairan masih tetap kurang dari anjuran. Hal ini tidak perlu terlalu dirisaukan karena air juga terbentuk pada saat metabolisme makanan.
Sementara itu saat berbuka puasa, sebaiknya minumlah es buah atau teh dengan gula biasa secukupnya (jangan terlalu manis). Tujuannya hanya untuk menambah sedikit gula darah yang sudah mulai menurun karena puasa. Adapun terkait suhu cairan yang diminum, Johanes tidak mempermasalahkan jika ada orang yang ingin langsung minum air es saat berbuka. Pasalnya, minuman akan dipanaskan atau didinginkan dalam perjalanannya menuju lambung dan di dalam lambung.
"Sehingga, suhunya akan menjadi sama dengan suhu di dalam lambung, yaitu 37 derajat Celsius," ujarnya seraya mengingatkan untuk menghindari minuman yang terlalu manis atau terlalu banyak santannya karena mengandung terlalu banyak kalori dan lemak jenuh.
Johanes menyebutkan, efek lain dari dehidrasi adalah memicu bibir kering, bahkan mungkin seriawan. Selain banyak minum, pencegahan seriawan saat puasa dilakukan dengan makan cukup buah dan sayuran.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Pola Makan Sehat ketika Berpuasa
Pernahkah Anda menemui orang yang berpuasa Ramadan, tapi malah bertambah gemuk atau badan lemas seharian? Bisa jadi itu terjadi karena pola makan yang salah .
Saat berpuasa, apalagi puasa sebulan penuh pada bulan Ramadan, asupan makanan dan minuman ke dalam tubuh umumnya berkurang. Tak heran mereka yang menjalani puasa rata-rata akan mengalami penyusutan berat badan, kendati tidak terlalu signifikan. Itulah sebabnya, bagi yang tengah susah-payah menurunkan berat badan, bulan Ramadan menjadi momen tepat untuk mengatur dan memperbaiki pola makan. Inilah salah satu keistimewaan berpuasa.
Lantas, mengapa ada orang berpuasa yang justru terus menggemuk dari hari ke hari? Jika terjadi demikian, segera berkaca, kemungkinan ada kesalahan dalam jenis dan pola makan yang dijalani selama puasa. Meski puasa Ramadan sudah berjalan dua minggu, tidak ada salahnya mengubah dan memperbaikinya sekarang.
Saat berpuasa, pola dan waktu makan berubah. Kebiasaan pun umumnya ikut berubah. Kepala UGD RSIA Muhammadiyah Jakarta Selatan dr Ahmad Jalaludin mengungkapkan, pada bulan puasa biasanya muncul kebiasaan-kebiasaan baru. Misalnya produktivitas kerja menurun dengan alasan badan lemas karena kurang makan, kebiasaan makan sahur yang banyak, makan berlebihan saat berbuka, kurangnya konsumsi buah dan sayur, atau tidur seharian tanpa berolahraga. Tanpa disadari hal itu justru menyebabkan peningkatan berat badan dan kondisi tubuh menjadi kurang fit sehingga mengurangi manfaat puasa bagi kesehatan. "Makanya ada orang yang puasa, tapi kok malah tambah gemuk," ujarnya. Kendati tidak makan dan minum pada siang hari, Ahmad menegaskan bahwa asupan kalori, karbohidrat, dan zat gizi lainnya harus tetap sama seperti saat tidak berpuasa.
Mengingat aktivitas makan dan minum hanya bisa dilakukan pada malam dan dini hari, tentunya perlu pengaturan ulang pola makan dan minum. Nah, pengaturan ini dimulai saat sahur. Bagi yang belum terbiasa, mungkin berat rasanya memaksakan diri bangun tidur dan makan saat dini hari. Jangan malas dan anggap sepele karena makan sahur berperan penting sebagai sumber energi selama puasa seharian.
"Sahur dianjurkan pada akhir waktu. Di samping bergizi, makanan yang dikonsumsi hendaknya kaya serat, yakni sayur dan buah untuk kesehatan saluran pencernaan. Jangan terlalu banyak makan lemak saat sahur karena cenderung membuat badan lemas," kata dokter yang juga aktif sebagai edukator diabetes.
Pernyataan tersebut juga dikatakan spesialis gizi klinik dari Melinda Hospital Bandung, dr Johanes C MND SpGK.Ia mengungkapkan, jika langsung tidur segera setelah makan, terdapat risiko terjadinya muntah atau aliran balik makanan yang dapat masuk ke dalam paru-paru karena makanan masih berada dalam proses pengolahan di lambung.
Untuk itu, berilah jeda sebelum Anda memutuskan tidur kembali. "Soal berapa lama jedanya, tergantung jenis makanan yang dikonsumsi. Pengosongan lambung umumnya terjadi antara 1/2 - 2 jam. Makanan cair biasanya lebih cepat, sedangkan makanan berlemak lebih lama tinggal di lambung," kata Johanes.
Berlanjut saat berbuka, dianjurkan meneguk minuman manis dan hangat. Makan pun hendaknya dilakukan bertahap dan tidak terburu-buru. Berilah jeda sebelum mulai menyantap hidangan utama, misalnya dengan menunaikan ibadah salat magrib terlebih dulu. Bagi mereka yang berbadan gemuk, hindari berbuka puasa dengan makanan tinggi kolesterol dan kurangi makanan manis serta gorengan. Daging tanpa lemak, sayur, dan buah umumnya lebih dianjurkan.
Sebaliknya, bagi yang terlalu kurus, Ahmad menyarankan untuk menambah porsi minum susu dan menghindari makanan yang sulit dicerna seperti sayuran berserat kasar (daun singkong, daun pepaya).
"Bagi lansia (lanjut usia), saat berbuka tidak dianjurkan makan langsung banyak. Makanlah dalam porsi kecil tapi sering," tutur Ahmad.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Subscribe to:
Posts (Atom)